Efek Samping Obat

Efek samping obat

• Jika suatu obat tidak mempunyai efek samping, maka di duga obat tsb juga tidak memilki efek utama

• Efek samping meliputi:

– Efek toksik

– Reaksi alergi

– Efek samping sekunder

– Efek samping pada masa perkembangan embrio/fetus

– Ketergantungan obat


1. Efek samping toksik

• Tergantung dari dosis dan spesifik obat

• Toleransi setiap orang berbeda beda

• Efek toksi bermacam macam:gangguan saraf pusat, ggan lambung –usus, kerusakana hati,, ginjal, darah samapi teratogen/karsinogen

• Penyakit karena obat: penyakit yg ditimbulkan karena obat misal tuli setelah pemakaian streptomisin lama, diskinesia setelah pemberian fenotiasin

2. Reaksi alergi

• Reaksi organisme yg berubah terhadap senyawa tertentu (alergen)/organisme bereaksi lain terhadap organ ini dibandingkan sebelumnya

• Hiperergi, hipoergi dan anergi

• Dalam istilah sehari hari: alergi=hiperergi

• Tidak tergantung dosis&tidak khas untuk bahan obat yg bersangkutan

Pencegahan reaksi alergi

• Sedapat mungkin obat tunggal

• Indikasi harus jelas

• Anamnesis menggali riwayat alergi

• Monitoring pasien ketat pd pengobatanjangka panjang

• Penjelasan pd pasien pd pengobatan sendiri

3. Reaksi hipersensitivitas jenis segera

• Terjadi beberapa detik-menit setelah terpapar alergen

• Jenis:

– Reaksi anafilaksik(terbentik IgE yg punya kemampuan melekat sel mast atau granulosit basofilàperubahan membran sel yg sel mengeluarkan mediator antara lain histamin, bradikinin,serotonin,SRS-A&PGàreaksi anafilaksik berupa vasodilatasi, bronkokontriksi dan bisa shock)

– Reaksi sitotoksik(terbentuk IgG&igM &sistem komplemenàkersakan sel sel darah misal reaksi penolakan gol darah pd trnasfusi yg tidak cocok)

– Reaksi yg terjadi akibat kompleks imun(terbentuk kompleks imun antar Ag-AB yg menyebabkan reaksi hipersensitivitas menyeluruh

4. Reaksi hipersensitivitas jenis lambat

• Ditimbulkan oleh limfosit yg diubah (desensibilisasi) secara spesifik

• Sesil(Ab yg tdp pd permukaan sel) bereaksi dg AG yg sesuaiàinfiltrasi sel limfosit&monosit ke tempat yg ber antigen

• Termasuk:

– Reksi kulit/reaksi tuberkulin

– Alergi kontak

– Reaksi penolakan terhadap transplantasi

5. Reaksi hipersensitivitas jenis khusus


• Belum jelas faktor imunologinya apa

• Termasuk:

– Eksantema akibat obat tertentu(barbiturat,sulfonamid,fenlftalein)

– Sindrom Lyell misal oleh fenil butason&barbiturat

– Sindrom Steven Jhonson misal setelah pemberian sulfonamid

– Limfadenopati setelah pemberian fenitoin

– Sindrom lupus eritematosus setelah pemebrian hidralazin,hidantoin,prokainamid,dan izoniasid

sjs sjs Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) and severe ocular involvement216

6. Reaksi Pseudoalergi

• Reaksi yg tidak disebabkan oleh rx Ag-Ab tetapi ditimbulkan langsung oleh obat

• Meliputi: rx anafilaksik setelah pemberian zat kontras rontgen, penurunan tekanan darah setelah pembebasan histamin&bronkospasme setelah penyuntikan tubokurarin

7. Efek samping sekunder

• Krusakan bakteri fisiologis karena pd pengobatan dg antibiotika spektruk luas

• Reaksi Hrxheimer berupa pembebasan endotoksin dari mikroorganisme secara mendadak setelah kemoterapi

Kerja teratogen

• Zat yg menimbulkan cacat janin

• Tidak semua yg diuji hewan aman pada manusia juga aman

• Zat teratogenik pasti : sitostatika, antiepileptik, alkohol dan talidomid

• Untuk timbul teratogen bergantung juga dg: ras, usia , cara hidup


Zat dg resiko teratogen

Bahan/obat

Jenis kerusakan

alkohol

Embriopati, kerusakan fetus

antiepileptik

Sumbing, celah langit bibir

barbiturat

Berbagai cacat

Estrogen dosis tinggi

Hidrochepalus

dietilstilbestrol

adenoCa mukosa vagina setelah waktu laten 17 th-an

sitostatika

Berbagai cacat



Obat yg dihindari selama menyusui

• Antibiotik: aminoglikosida,kloramfenikol,klindamisin, izoniasid, metronidazol, asam nalidiksat, novobiosin, pirimetamin, sulfonamid,tetrasiklin,trimetropim

• Antikoagulan:warfarin, fenprokoumon

• Estrogen dosis tinggi

• Fenolftalein

• Senyawa dengan kerja pd SSP: barbiturat, karbamazepin, klorpromazin, morfin,bromida dll

• sitostatika

Langit yang aneh. . .

Gambar ni ku ambil dari atap rumah., awalnya tidak sadar kalau ini gambar memberi bentuk aneh. baru setelah d save d lepi, ku lihat gambar-gambar langit sore itu, sosok ini muncul. . . . seperti seorang yang sedang meniup seswatu. . . tampak jelas sekali disana dahi, mata, hidung dan mulut yang sedang meniup seswatu. . . ohhhh!!!! subhan ALLAH sekali., ini pertanda apa ya?????

apa mungkin malaikat yang sedang mengatur angin dengan meniupnya ????hiiihihihi

langit itu bagai sebuah lukisan yang luar biasa, banyak menyimpan makna di dalamnya., seni yang agung dari YANG MAHA KUASA. Sungguh indah bila melihatnya, memberi ketenangan dan kedamaian jiwa. LIKE THIS!!!

Gambaran Penyakit Ginjal

GAMBARAN KLINIS PENYAKIT GINJAL

Manifestasi klinis penyakit ginjal dapat dikelompokkan ke dalam sindrom-sindrom. Sebagian bersifat khas untuk penyakit glomerulus., yang lain terdapat pada penyakit glomerulus, yang lain terdapat pada penyakit yang mengenai salah satu komponen ginjal.

Beberapa istilah yang serng muncul pada gangguan ginjal diantaranya: azotemia adlah biokimiawi yang berarti peningkatan kadar kreatinin dan nitrogen urea darah dan terutama berkaitan dengan penurunan laju filtrasi glomerulus. Azotemia dapat disebabkan oleh banyak penyakit ginjal walaupun dapat juga disebabkan oleh penyebab ekstrarenal. Azotemia prarenal timbul bila terjadi hipoperfusi ginjal, yang mengganggu funsi ginjal tanpa adanya kerusakan parenkim. Demikian juga, azotemia pascarenal ditemukan kalau aliran kemih tersumbat di bawah level ginjal. Teratasinya obstruksi akan diikuti oleh perbaikan azotemia yang pesat.

Apabila azotemia berkaitan dengan konstelasi gejala dan tanda klinis serta kelainan biokimiawi, hal ini disebut uremia. Uremia tidak saja ditandai dengan kegagalan fungsi ekskresi, tetapi juga oleh sebagian perubahan metabolic dan endokrin yang menyertai kerusakan ginjal. Selain itu terdapat keterlibatan saluran cerna (misal, gastroenteritis uremik), neuromuskulus (misal, neuropati perifer), dan kardiovaskular (misal, perikarditis fibrinosa uremik).

Beberapa sindrom ginjal utama:

1. Syndrome nefritik akut adalah suatu syndrome glomerulus yang didominasi oleh onset akut hematuria makroskopik (sel darah merah dalam urine), proteinuria ringan sampai sedang, azotemia, edema, glomerulonefritis pascastreptococcus akut.

2. Syndrome nefrotik ditandai dengan proteinuria berat ( ekskresi lebih dari 3,5 g protein/hari), hipoalbuminemia,, edema berat, hiperlipidemia, dan lipiduria (lipid dalm urine).

3. Hematuria atau proteinuriaasimtomatik, atau kombinasi keduanya, biasanya merupakan manifestasi kelainan glomerulus yang ringan atau samar.

4. Glomerulonefritis progresif cepat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dalam beberapa hari tau minggu dan bermanifestasi sebagai sedimen urine aktif( hematuria, sel darah merah dismorfik, silinder eritrosit).

5. Gagal ginjal akut didominasi oleh oliguria atau anuria (tidak ada aliran urine), yang disertai azotemia akut. Kelainan ini dapat terjadi akibat cedera glomerulus (misalnya glomerulonefritis sabit), cedera interstitium, atau nekrosis tubulus akut.

6. Gagal ginjla kronis, ditandai dengan gejala dan tanda uremia yang berkepanjangan, adalah hasil akhir semua ginjal kronis.

7. Infeksi saluran kemih ditandai dengan bakteriuria dan piuria ( bakteri dan leukosit dalm urine). Infeksi mungkin asimtomatik atau simtomatik, dan infeksi dapat mengenai hanya ginjal atau kandung kemih.

8. Nefrolitiasis ( batu ginjal ) bermanifestasi sebagai kolik ginjal, hematuria, dan pembentukan batu berulang.

Selain syndrome ginjal ini, obstruksi saluran kemih dan tumor ginjal mencerminkan lesi anatomik spesifik yang sering memiliki manifestasi beragam.

Peradangan

A. Konsep normal dan konsep sakit

Konsep kenormalan memiliki kompleks dan tidak dapat didefinisikan secarta singkat dan jelas. Segala parameter pengukuran yang dipakai pada individu atau kelompok individu memiliki semacam nilai rata-rata yang dianggap normal. Nilai rata-rata untuk tinggi badan, berat badan dan tekanan darah diperoleh dari pengamatan banyak individu dan mencakup sejumlah variasi tertentu.

Variasi nilai-nilai normal terjadi karena beberapa alasan. Pertama, tiap orang berbeda dari yang lain dalam susunan genetik mereka. Kedua, tiap individu memiliki perbedaan dan pengalaman hidup dan interaksi mereka dengan lingkungan. Ketiga, pada tiap individu terdapat variasi parameter fisiologik karena cara mekanisme kontrol pada fungsi tubuh.

Penyakit didefinisikan sebagai perubahan pada individu-individu yang menyebabkan parameter kesehatan mereka di bawah kisaran normal. Penyakit dikatan ada, jika beberapa struktur dan fungsi tubuh menyimpang dari normal sampai pada suatu keadaan berupa rusak atau terancamnya kemampuan untuk mempertahankan homeostasis normal atau individu tidak dapat lagi menghadapi tantangan lingkungan. Berdasarkan anamnesis, penyakit merupakan suatu bentuk kehidupan baru, semacam pemilikan tubuh oleh agen dari luar.


B. Reaksi peradangan

Bila sel-sel atau jaringan-jaringan tubuh mengalami cidera atau mati, selama pejamu masih hidup, jaringan hidup disekitarnya membuat suatu respons mencolok yang disebut peradangan atau inflamasi. Peradangan atau inflamasi sebenarnya merupakan fenomena yang menguntungkan dan defensive, yang menghasilkan netralisasi dan eliminasi agen penyerang, penghancuran jaringan nekrotik, dan terbentuknya keadaan untuk perbaikan dan pemulihan. Reaksi peradangan merupakan suatu proses yang dinamik dan kontinu pada kejadian yang terkoordinasi dengan baik. Untuk memunculkan manifestasi suatu reaksi peradangan, sebuah jaringan harus hidup dan khususnya memiliki mikrosirkulasi fungsional.

Inflamasi melaksankan tugas pertahanannya dengan mengencerkan, menghancurkan atau menetralkan agen berbahaya. Inflamasi kemudian menggerakkan agen berbagai kejadian yang akhirnya menyembuhkan dan menyusun kembali tempat terjadinya jejas.

Walaupun inflamasi membantu membersihkan infeksi dan bersama-sama dengan proses perbaikan memungkinkan terjadinya penyembuhan luka, baik inflamasi maupun proses perbaikan sangat potensial menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, respons radang merupakan dasar terjadinya reaksi anafilaktik yang mengancam nyawa akibat gigitan serangga atau obat, dan merupakan dasar terjadinya penyakit kronik tertentu, seperti atriris rheumatoid dan aterosklerosis.

Peradangan dibedakan menjadi dua, yaitu peradangan akut dan peradangan kronik. Peradangan akut merupakan respons langsung tubuh terhadap cedera atau kematian sel. Ditemukan tanda-tanda pokok yang muncul pada peradangan, yaitu kemerahan, panas, nyeri, pembengkakan dan perubahan fungsi , atau dalam bahasa klasik, rubor, kalor, dolor, tumor dan fungsio lasea.

Peradangan kronik ditandai dengan hal-hal berikut infiltrasi sel mononuclear, destruksi jaringan dan repair yang melibatkan proliferasi pembuluh darah baru dan fibrosis. Peradangan kronik dapat berkembang dari peradangan akut. Perubahan ini terjadi ketika respons akut tidak teratasi karena agen cedera yang menetap atau karena gangguan proses penyembuhan normal.


C. Aspek-aspek cairan pada peradangan

1. Eksudasi

Pergeseran cairan yang terjadi secara bertahap pada reaksi peradangan berlangsung sangat cepat dan mengandung protein olasma dalam jumlah yang cukup signifikan, keaadaan ini disebut dengan eksudat. Proses ini diiikuti oleh pergeseran keseimbangan osmotik, dan air keluar bersama protein, menimbulkan pembengkakan jaringan. Dilatasi arteriol menimbulkan hyperemia local dan kemerahan juga menimbulkan peningkatan tekanan intravascular local karena pembuluh darah membengkak. Namun,faktor utama adalah permeabilitas pembuluh darah terhadap protein.

2. Limfatik dan aliran limf

Jika suatu daerah meradang, biasanya terjadi peningkatan mencolok pada aliran limfe yang keluar dari daerah tersebut. Pada perjalanan peradangan akut, sel-sel pelapis yang berdekatan pada limfatik terkecil agak terpisah, sama seperti yang terjadi di venul, memungkinkan akses yang lebih cepat bagi zat-zat dari celah jaringan untuk masuk ke dalam limfatik. Saluran limfatik dipertahankan dalam posisi terbuka karena sebuah jaringan membengkak akibat suatu sistem serabut jaringan ikat yang tertambat pada dinding limfatik. Pada semua keadaan, tidak hanya aliran limf yang meningkat tetapi juga kandungan protein dan sel pada limf juga meningkat selama peradangan akut.


D. Peran flora normal

Mikroflora merupakan populasi mikroorganisme yang gterdapat pada kulit, mukosa,organ, dan lain-lain dalam tubuh orang sehat. Ada 2 golongan mikroflora, yaitu mikroflora tetap dan mikroflora sementara. Mikroflora tetap adalah mikroflora yang menetap pada tempat tertentu dan bersifat apatogen. Sedangkan mikroflora sementara adalah mikroflora yang sementara tinggal pada tempat dan saat tertentu, bersifat apatogen dan biasanya berasal dari daerah sekitar.

Jika flora tetap masih utuh maka adanya flora sementara tidak mempunyai oengaruh. Sebaliknya jika tidak, maka flora sementara akan terjadi kolonisasi dan multiplikasi yang mengakibatkan infeksi. Pertumbuhan mikroflora dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, makanan, dan lain-lain.

Peran mikroflora tetap adalah mempertahankan keseimbangan dan menjaga fungsi normal tubuh dan berguna memproduksi vitamin K dakam usus. Jika mikroflora ini bermigrasi ke tempat lain lewat aliran darah dapat berubah menjadi pathogen dan menyebabkan infeksi.


E. Rasa hangat pada luka memar

Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan pada reaksi peradangan akut. Sebenarnya panas secara khas hanya merupakan reaksi peradangan yang terjadi pada permukaan tubuh, yang secara normal lebih dingin dari suhu inti tubuh. Daerah peradangan di kulit menjadi lebih hangat dari daerah sekelilingnya karena lebih banyak darah (pada suhu 37 0C) dialirkan dari dalam tubuh ke permukaan daerah yang terkena dibandingkan dengan ke daerah yang normal.


F. Rasa nyeri pada luka memar

Dolor atau nyeri pada suatu reaksi peradangan ditimbulkan dalam berbagai cara. Perubahan pH local atau konsentrasi local ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. hal yang sama, pelepasan zat-zat kimia tertentu seperti histamine atau zat-zat kimia bioaktif lain dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang menyebabkan tekanan lokal yang dapat menimbulkan nyeri.


G. Perbedaan panas karena peradangan dan demam

Panas pada peradangan diakibatkan karena lebih banyak darah (pada suhu 370C) dialirkan dari dalam tubuh ke permukaan daerah yang terkena cedera dibandingkan dengan ke daerah yang normal, dimana suhu tersebut melebihi dari suhu normal permukaan tubuh yang seharusnya dibawah suhu inti tubuh.

Sedangkan mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen. Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8 – 10 menit. Interleukin-1 juga menginduksi pembentukan prostaglandin, terutama prostaglandin E2, atau zat yang mirip dengan zat ini, yang selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam.

Tahu kah kaliyan apa itu sebenarnya batuk


A. Pengertian batuk

Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.

Batuk merupakan gejala umum yang mempunyai nilai diagnostik terbatas, tetapi dapat merupakan satu-satunya indikasi terdapatnya penyakit bronkopulmoner yang serius. Contohnya seperti batuk yang sangat sering terjadi pada perokok.

Batuk sebenarnya adalah suatu bentuk refleks yang dilakukan tubuh sebagai reaksi terhadap benda asing yang masuk ke dalam tenggorokan atau saluran pernapasan. Benda asing itu bisa berupa lendir, kuman, benda-benda penyebab reaksi alergi (alergen), dan benda-benda penyebab timbulnya reaksi iritasi (iritan).


B. Mekanisme batuk

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti dengan pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu.

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50% dari kapasitas vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga pengeluaran sekret akan lebih mudah.

Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50 ­ 100mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glottis.

Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal.

Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 30­50 detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.


C. Penyebab batuk

Untuk mengetahui penyebab batuk perlu dilakukan anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik, dan mungkin juga pemeriksaan lain seperti laboratorium darah dan sputum, rontgen toraks, tes fungsi paru dan lain-lain. Beberapa penyebab batuk:

1. Bakteri, virus dan fungus

2. Berbagai penyakit/proses yang merangsang reseptor batuk

3. Iritan : rokok, asap SO2, gas ditempat kerja, dll

4. Mekanik : retensi sekret bronkopulmoner, benda asing dalam saluran pernafasan, postnasal dirp, aspirasi, dll

5. Penyebab paru obstruktif : bronkotis kronik, astma, emfisema, fibrosis kistik bronkiektasis, dll

6. Penyakit paru retristif : penumokniosis, penyakit kolagen, penyakit granulomatosa, dll

7. Infeksi : laringitis akut, bronkitis akut, penumonia, pleuritis, perikarditis.

8. Tumor : tumor laring dan tumor paru

9. Psikogenik : emosi

10. Dan lain-lain

Saluran pernafasan memiliki permukaan mukosa yang khas untuk bagian-bagian pada lapisan hidung, nasofaring, trakhea dan bronkus. Epitel diantaranya terdiri dari sel tinggi dan memiliki sel goblet yang berfungsi menghasilkan mukus. Pada bagian lumenya dilengkapi dengan silia. Silia-silia ini bergetar seperti cambuk dengan gerakan yang mengarah ke mulut, hidung dan ke arah luar tubuh. Sel-sel yang menghasilkan mukus tersebut menghasilkan selimut lengket yang bergerak di atas silia dan meluncur secara kontinu ke atas.

Sekitar 10.000 mikroorganisme, termasuk virus, bakteri, fungus terhirup setiap hari oleh setiap penduduk kota. Mikroba besar terperangkap di lapisan mukosiliaris yang melapisi hidung dan saluran nafas atas. Mikroorganisme terperangkap di mukus kemudian diangkut oleh gerakan silia ke bagian belakang tenggorokan tempat mikroorganisme tersebut ditelan atau dikeluakan. Mikroorganisme tersebut akan dikeluarkan dengan cara dibatukkan.


Alergi adalah kondisi yang spesifik dan tidak dapat dijelaskan penyebab sebenarnya. Pada alergi, tubuh kita menjadi sensitif akan sesuatu (contoh : cuaca dingin dan debu) dan mengenalinya sebagai benda asing, sehingga apabila tubuh mendeteksi adanya dingin dan debu, tubuh bereaksi untuk mengusir benda asing tersebut. Dan batuk adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing lewat udara.


D. Jenis-jenis batuk

Batuk dikategorikan dalam dua jenis. Yaitu, batuk produktif dan nonproduktif. Batuk produktif merupakan jenis batuk yang ditandai dengan pengeluaran dahak dari tenggorok. Dahak tersebut se­ngaja dikeluarkan untuk membuang penyakit dalam tubuh. Bia­sanya terjadi akibat virus influenza. Bisa juga lendir atau dahak berasal dari peradangan pada paru-paru, misalnya TBC.

Batuk nonproduktif disebut ju­ga batuk kering. Jenis ini tidak mengeluarkan lendir. Batuk kering bisa akibat alergi atau merupakan tanda penyakit lain. Batuk kering juga dapat terjadi akibat efek samping mengonsumsi obat-obatan. Contohnya, obat tertentu yang berpe­ran menurunkan tekanan darah tinggi.

Dahak yang keluar bisa untuk mengenali penyebab batuk. Len­dir yang berwarna putih dan en­cer disebabkan oleh alergi. Sedang­kan lendir yang lebih kental dan berwarna kuning atau hijau karena serangan kuman. Jika terdapat darah, bisa diindikasikan pasien menderita tuberkulosis.


E. Pengobatan batuk

Pengobatan batuk baik karena alergi maupun infeksi memiliki kesamaan. Jika batuknya kering maka obatnya adalah obat untuk batuk kering (antitusiv) dan jika berdahak maka obatnya untuk batuk berdahak (expectorant). Formula obat batuk yang memiliki kandungan antihistamin lebih baik, seperti Chlorpheniramine maleat (CTM) atau difenhidramin. Karena kandungan anti histamin tersebut selain bersifat anti-alergi, juga menyebabkan kantuk sehingga penderita dapat beristirahat dengan baik dan tidak terganggu oleh batuk, terutama di malam hari. Dan hindari sumber-sumber alergi , misalnya jika harus berada di tempat yang banyak debunya (di jalan raya, saat membersihkan rumah)sebaiknya memakai masker pelindung hidung dan mulut, dan hindari tubuh dari paparan cuaca dan udara dingin atau AC dengan menggunakan baju pelapis/baju hangat.


F. Cara penularan batuk

Batuk yang menular adalah batuk yang disebabkan karena adanya infeksi kuman. Cara pemindahan infeksi yang paling jelas adalah pemindahan secara langsung dari satu orang ke orang lain, misalnya melalui batuk, bersin dan berciuman.

Secara tidak langsung mikroorganisme seperti kuman,baik bakteri maupun virus dipindahkan dengan berbagai cara. Individu yang terinfeksi mengeluarkan mikroorganisme ke lingkungan sekitar dan akan mengendap ke berbagai permukaan, kemudian mikroorganisme tersebut dilepaskan kembali ke udara, sehingga menyebar tidak langsung ke hospes lain.


G. Batuk yang disertai demam dan pilek

Batuk pilek pada medis dikenal dengan istilah common cold atau nasofaringitis. Penyebabnya adalah infeksi virus pernapasan yang tidak berbahaya. Virus batuk pilek ini jenisnya ada sekitar 200 virus. Seperti rhinovirus, coronavirus, coksakivirus dan sebagainya. Gejalanya terjadi lokal pada saluran pernapasan atas seperti batuk, hidung berlendir, bersin-bersin, sakit tenggorokan, mata berair, hidung tersumbat. Kadang disertai gejala sistemik ringan seperti demam ringan, pegal-pegal ringan, dan lemas ringan. Batuk pilek ini biasanya lebih mudah menyerang anak-anak karena daya tahan tubuhnya lebih lemah. Anak-anak biasanya terserang 4 hingga 8 kali per tahun, rata-rata 6 kali. Kalau dewasa umumnya 2-4 kali per tahun.

Sedangkan flu atau influenza, disebabkan hanya 1 virus, yaitu virus influenza, dengan tipe A, B, atau C. Tipe A itu bisa bermutasi, dan menyerang manusia atau binatang, seperti flu burung. Sedangkan 2 tipe lainnya hanya menyerang manusia. Gejalanya lebih serius dan tidak hanya lokal pada saluran pernapasan atas, tapi gejala sistemik. Selain gejala batuk pilek, gejala sistemik yang menonjol adalah demam tinggi, sering disertai menggigil, nyeri otot hebat (mialgia), sakit kepala dan badan yang lemas (malaise). Bila tubuh bisa melawan virus influenza, maka gejala mereda dalam 5-7 hari. Tapi bila berlanjut, maka bisa menjadi komplikasi berat.


H. Respon imun tubuh terhadap alergi

Kadar normal IgE paling rendah dari lima kelas antibodi lainnya, tetapi molekul-molekulnya memainkan peranan yang besar pada respons alergi manusia. Molekul-molekul IgE mudah berikatan dengan reseptor-reseptor permukaan jaringan sel mast dan basofil darah. Sebagai akibatnya, IgE yang terikat itu terkumpul pada sistem pernafasan dan saluran cerna serta sirkulasi darah dan kulit. Jika molekul-molekul IgE yang terikat reseptor dan berdekatan bergabung dengan sekelompok antigen reaktif yang berbiak, dapat terjadi serangkaian peristiwa dimana sel melepaskan substansi mediator reaktif jaringan seperti histamine, leukotrien dan kemoatraktan untuk eosinofil, prekusor kinin dan interleukin. Hasil tambahan berupa antikoagulansia, enzim-enzim proteolitik, dan suatu radikal oksigen yang reaktif serta prostaglandin dan hasil-hasil yang berikatan dengan asam arakhidonat. Pengaruh gabungan hasil-hasil tersebut mencetuskan dilatasi dan hipermeabilitas pembuluh darah kecil, spasme dinding visera yang berongga dan peningkatan sekresi selaput lendir. Peningkatan sekresi selaput lendir yang berlebihian terutama di saluran nafas bisa menyebabkan batuk.


I. Mikro flora normal

Mikroflora merupakan populasi miroorganisme berupa bakteri (aerob dan anaerob),jamur (ragi dan kapang)serta virus, yang terdapat pada kulit, selaput lendir maupun organ lain. Dan ditemukan pada orang sehat.

Peran mikroflora normal tetap diantaranya untuk pertahanan kesehatan, menjaga fungsi normal, pada saluran pencernaan berfungsi untuk pembentukan vitamin K dan membantu penyerapan zat-zat makanan serta mencegah terjadinya kolonisasi bakteri patogen yang menyebabkan penyakit. Contohnya Streptococcus viridians yang merupakan flora normal tetap di saluran pernafasan atas.

SISTEM DIGESTIVUS MANUSIA

A. Peran sistem digestivus dalam tubuh manusia

Tubuh kita memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Dalam melakukan kegiatan sehari-hari, tubuh memerlukan makanan bergizi. Agar makanan yang bergizi dapat diserap oleh tubuh dengan baik, diperlukan sistem digestivus dengan alat pencernaan yang sehat. Di dalam alat pencernaan itulah zat-zat makanan diolah terlebih dahulu, kemudian diserap oleh tubuh. Alat pencernaan pada manusia terdiri atas rongga mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus. Selain itu sistem digestivus juga berperan dalam pembentukan vitamin K, sistem pertahanan tubuh, dan lain sebagainya.


B. Histology sistem digestivus

Sistem digestivus terbentang mulai dari mulut sampai dengan anus. Mulai dari bibir sampai dengan faring mempunyai struktur yang berbeda dibanding bagian-bagian lainya. Mulut terdiri atas labia, palaturn, lingua dan gigi. Labia secara umum terdiri atas epitel berlapis pipih, jaringan pengikat fibroelastis dan otot. Palatum durum dilapisi oleh epitel berlapis pipih tanpa penandukan, lapisan proprianya sangat tipis dan melekat langsung pada periosteum tulang tengkorak. Lingua disusun oleh ikatan-ikatan otot seran lintang yang berjalan dalam tiga arah dan tegak lurus satu sama lain. Permukaan lidah dibagi menjadi dua oleh sulkus terminalis yang berbentuk seperti huruf V,di bagian depan sulkus mengandung papilla untuk mengecap dan dibelakang sulkus terdapat limfonoduli dan kelenjar. Gigi ,secara anatomis dibedakan menjadi korona dan radix, pada penampang membujur bagian keras gigi terdiri dari email dentin dan cementum serta bagian lunak gigi yaitu pulpa gigi.

Umumnya dinding saluran gastrointestinal terdiri atas empat bagian utama, yaitu tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis dan tunika adventitia.




C. Gangguan-gangguan sistem digestivus

Gangguan dalam sistem pencernaan dapat timbul dari berbagai faktor, bisa dari makanan yang kurang higienis, makanan yang tyercemar, salah makan, dan infeksi saluran pencernaan. Gangguan sistem pencernaan dapat terjadi mulai dari mulut hingga anus. Berikut adalah beberapa penyebab terjadinya gangguan sistem pencernaan yang penting.

1. Gangguan pada mulut

a. Parotitis, infeksi pada kelenjar parotis

b. Xerostomia, produksi air liur yang sedikit

2. Gangguan pada lambung

a. Ulkus, peradangan pada dinding lambung

b. Rusaknya sel-sel kelenjar getah lambung

c. Kolik, rasa nyeri akibat makan terlalu banyak atau salah makan

3. Gangguan pada usus

a. Diare, gerakan peristaltik dinding usus cepat, tetapi penyerapan air lambat

b. Konstipasi, gerakan peristaltik dinding usus lambat, penyerapan air tinggi.

4. Gangguan pencernaan karena infeksi

a. Peritonitis, radang selaput rongga perut

b. Apendikitis, radang umbai cacing




D. Persyarafan sistem digestivus

Sistem digestivus memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf enterik. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus, mulai dari esophagus dan memanjang sampai ke anus. Sistem saraf enterik ini bersifat sangat penting terutama dalam mengatur fungsi pergerakan dan sekresi gastrointestinal.

Sistem saraf enterik terdiri atas dua plekus, yaitu plekus mienterikus dan plekus submukosa. Plekus mienterikus mengatur pergerakan gastrointestinal sedangkan plekus submukosa mengatur sekresi gastrointestinal dan aliran darah lokal.

Walaupun sistem saraf enterik dapat berfungsi dengan sendirinya, namun perangsangan sistem parasimpatis dan simpatis dapat sangat meningkatkan dan menghambat fungsi gastrointestinal lebih lanjut. Saraf-saraf sensorik seperti ujung saraf simpatis dari epithelium gastrointestinal dapat mengadakan reflek-reflek lokal di dalam dinding usus itu sendiri.


E. Peranan enzim-enzim dalam sistem digestivus

Di dalam tubuh manusia selain pencernaan mekanik, juga terdapat pencernaan kimiawi dengan bantuan enzim. Enzim- enzim yang berperan dalam pencernaan, diantaranya:

1. Di dalam cavum oris, terdapat enzim ptialin yang berfungsi menghidrolisis amilum menjadi maltose.

2. Di lambung terdapat enzim pepsin, rennin, dan lipase. Pepsin berfungsi dalam pemecahan protein menjadi pepton. Renin berfungsi mengendapkan kasein yang terdapat dalam susu,terutama terdapat pada bayi yang masih menyusu. Lipase berfungsi dalam mengemulsikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol.

3. Di dalam pankreas terdapat enzim erepsinogen, disakarase, lipase usus dan enterokinase. Erepsinogen berfungsi untuk menghidrolisis pepton menjadi asam amino. Disakarase (sukrosa, maltosa, laktosa) berfungsi untuk menghidrolisis disakarida menjadi monosakarida. Lipase usus berfungsi untuk menghidrolisis emulsi lemak menjadi asam lemak dan gliserin. Enterokinase berfungsi mengaktifkan enzim-enzim yang belum aktif menjadi enzim yang aktif.



F. Proses defekasi

Defekasi ditimbulkan oleh reflek defekasi, yang merupakan salah satu dari refleks intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enterik. Bila feses memasuki rectum, distensi dinding rectum menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui plekus mienterikius untuk menimbulkan gelombang peristaltik di dalam kolon desenden, sigmoid, dan rectum, mendorong feses ke arah anus. Sewaktu gelombang peristaltik mendekati anus, sfingter ani internus direlaksasi oleh sinyal-sinyal penghambat dari plekus mienterikus, jika sfingter ani eksternus juga dalam keaadaan sadar, dan berelaksasi secara volunter pada waktu yang bersamaan, maka terjadilah defekasi.


G. Frekuensi normal defekasi

Normalnya Frekuensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Frekuensi defekasi juga dipengaruhi oleh jenis makanan, kegiatan dan kesehatan masing-masing orang.


H. Warna dan bentuk feses normal

Feses adalah sisa makanan yang sudah dicerna dan tidak dapat digunakan oleh tubuh untuk diserap dan digunakan sebagai energi dalam tubuh dan makanan bagi sel-sel tubuh. Biasanya feses yang normal berwarna coklat terang sampai coklat gelap. berbagai makanan dan obat-obatan mempengaruhi warna feses seperti berikut ini :

· protein daging menghasilkan warna coklat gelap

· bayam dan sayuran menghasilkan warna hijau

· wortel dan bit menghasilkan warna merah kokoa, coklat

· barium untuk tes feses menghasilkan warna susu

Apabila ada perubahan pada warna normal feses maka bisa di duga adanya kerusakan pada sistem pencernaan



Warna feses yang tidak normal berikut ini:

- bila darah keluar dalam jumlah cukup kedalam GI atas, darah menghasilkan warna hitam

- darah yang masuk bagian bawah saluran GI dengan cepat tampak merah terang atau gelap

- feses berair adalah karakteristik dari penyaki usus halus atau diare

- feses semi padat seperti pita karakteristik pada penyakit hisprung

- feses yang sangat besar dan berminyak menunjukkan alabsorpsi usus

- mucus dan nanah dalam feses menunjukan adanya peradangan

- diare pada malam hari dapat menunjukkan diabetes
Get cash from your website. Sign up as affiliate.